Ilmu lebih utama dari harta karena ilmu itu menjaga kamu, kalau harta kamulah yang menjaganya

Pesantren di Era Globalisasi

Secara historis, pesantren telah membuktikan fungsi strategisnya dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, baik pada masa perjuangan merebut kemerdekaan maupun pada era mengisi kemerdekaan.

Sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tertua di bumi nusantara ini, tidak bisa dipungkiri bahwa pesantrenlah yang telah melahirkan banyak ulama, kiai, cendikiawan, pejuang, pengusaha, dan tokoh-tokoh yang berpengaruh lainnya, yang mengakar di tengah masyarakat dalam berbagai bidang.
            Setelah berbagai tragedi bom terjadi di Indonesia, tidak sedikit masyarakat yang menganggap pesantren sebagai base camp pelatihan calon-calon teroris. Tentu, kenyataan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus mendapatkan klarifikasi yang jelas, agar umat tidak kebingungan.
            Mujammil Qomar memaparkan dalam bukunya Pesantren : Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, bahwa pesantren yang ada saat ini sudah jauh berbeda dengan pesantren yang ada dalam pikiran kebanyakan orang. Pesantren lebih terkesan kumuh, terpinggirkan, dan jauh dari peradaban.
            Di sisi lain, pesantren dihadapkan dengan tantangan perkembangan dunia sains dan teknologi informasi yang sudah tak terbendung lagi. Pertukaran informasi dan komunikasi berlangsung cepat seolah tidak ada sekat-sekat geografis yang membatasi. Namun begitu, eksistensi pesantren harus tetap berkibar.
                  Prof. Dr. H. Babun Suharto. SE, MM dalam buku Dari Pesantren untuk Umat : Reinventing Eksistensi Pesantren di Era Globalisasi menjelaskan bahwa dunia sekarang ini memasuki era informatika. Sebuah era yang dilambangkan silikon dan microchip sebagai komponen teknologi kecerdasan buatan, seperti computer, internet, kamera ponsel, dan lain sebagainya.
            Artinya, pesantren tidak boleh hanya sekedar melahirkan santri-santri yang mampu menggali khazanah keIslaman dari literatur-literatur klasik, tapi juga harus sanggup menggali aneka ilmu pengetahuan mutakhir. Ini menjadi sangat penting agar kelak lahir generasi bangsa yang unggul di bidang agama dan master di bidang sains dan teknologi.

Dengan kata lain, keengganan untuk menyesuaikan dengan perubahan sebenarnya dengan sendirinya telah memosisikan pesantren sebagai lingkungan yang terisolir dari pergaulan. Akhirnya, akan ditinggalkan karena sudah tidak lagi sesuai atau tak dapat mengakomodasi keadaan zaman.
              Dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 77 disebutkan bahwa Allah swt memerintahkan umat Muslim agar dapat meraih kebahagiaan akhirat tanpa harus mengabaikan kenikmatan dunia, bahwa keseimbangan antara kebutuhan dan kebahagiaan dunia dan akhirat harus dicapai oleh seluruh umat Islam.

0 Response to " Pesantren di Era Globalisasi "

Posting Komentar