Antara Diri Sendiri dan Sinergisitas dengan Semua Stakeholder - Indonesia
merupakan bangsa yang besar baik dari segi luas wilayah, potensi alam yang
dihasilkan serta sumber daya manusia didalamnya. Atribut yang telah disebutkan
sebelumnya jika terintegrasi dengan baik bisa dikatakan bangsa Indonesia akan
menjadi adidaya dibanding dengan yang lain, namun sayang kenyataan di lapangan
tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Potensi alam kita masih
banyak yang mengelola pihak asing, sumber daya alamnya dari kita tapi hasil
olahannya kita beli dari perusahaan asing, itu disebabkan peralatan untuk
mengolahnya tidak kita miliki. Hal tersebut bisa ditanggulangi ketika bisa memanfaatkan
sumber daya manusia kita yang ahli di bidang tersebut untuk membuatnya dengan
pemerintah bertindak sebagai fasilitator yang siap memenuhi kebutuhan finansial
terkait penelitian pembuatan alat pengolah sumber daya alam yang ada.
Pendidikan yang belum merata di semua daerah merupakan faktor utama dalam
perkembangan kualitas sumber daya manusia kita, ketimpangan sosial dan ekonomi
jelas menjadi faktor pembedanya. Tidak hanya pemerintah pusat atau daerah saja
pihak yang bertanggung jawab atas realita seperti ini, kita sebagai satu bangsa
satu saudara ada tanggung jawab moral didalamnya untuk membantu dalam
perkembangan kualitas pendidikan di negeri ini. Dengan menggandeng pihak swasta
ataupun kita menggalang dana sendiri untuk berangkat bersama dalam misi ini
tentu sangat bagus, komitmen nyata adalah sebuah bentuk pengabdian, ada pepatah
“jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu, tanyakanlah apa yang kamu
sudah berikan pada negara”, itu semua cukup untuk menjawab pepatah tersebut.
Jika pemerintah belum bergerak dan kita sudah bergerak mendahuluinya itu
berarti telah menyinggung dengan sangat keras kepada para penguasa dalam wujud
nyata, semua pasang mata diluaran akan memandang positif langkah tersebut
sehingga akan menularkan semangat pembangunan yang menyuluruh untuk bangsa ini.
Sebuah keniscayaan jika semua elemen telah bergerak untuk mewujudkan Indonesia
yang maju dan sejahtera.
Berbicara
keberlangsungan bangsa Indonesia di masa depan tentu harus melihat seberapa
siapkah generasi penerus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa
ini? Generasi sekarang yang disebut generasi millennial adalah poros untuk
menentukan 20 tahun atau 30 tahun lagi bangsa Indonesia. Kreativitas dan
semangat membangun secara bersama-sama adalah kunci sukses dibalik kemajuan
bangsa Indonesia. Dengan dipadukan kemajuan teknologi yang ada persebaran
informasi untuk menunjang kegiatan pengabdian akan maksimal. Pemanfaatan
teknologi informasi seperti ini lebih tepat guna dibandingan hanya untuk
bermain game atau menonton hiburan yang tidak berfaedah, khususnya kekuatan
social media sangat vital karena penggunanya sebagian besar adalah anak muda
generasi millennial.
Selain
fokus utama adalah pengembangan sumber daya manusia guna mengolah sumbar daya
alam yang ada, fokus lain adalah menciptakan sebuah produk yang unik dan bisa
menghasilkan nilai tambah, baik secara individu maupun lingkungan masyarakat. Semakin
banyak ide yang tertuang dari generasi muda maka persaingan internal dalam
mencapai negara yang maju dan mampu bersaingan dengan negara lain. Dari
kreativitas tersebut tentunya bisa membuka lapangan kerja baru yang bisa
meningkatkan perekonomian, dari skala mikro dan terus berkembang menjadi skala
makro. Salurkan pengabdian kita sesuai dengan bidang yang kita kuasai, itulah
wujud revolusi mental yang sesungguhnya. Semua orang bisa berpartisipasi dalam
pembangunan sesuai bidangnya masing-masing. Dari akademisi, pakar kesehatan,
politikus, seniman, dan lain sebagainya. Tidak perlu kita bisa menguasai semua
bidang, asal kita punya keahlian dalam satu bidang kemudian ditekuni, maka itu
adalah jalan kita untuk menyongsong masa depan kita sendiri. Dimulai dari diri
kita dan berakhir untuk nusa dan bangsa.
Generasi
millennial di indonesia bisa dikatakan mempunyai bekal yang banyak untuk
menyongsong cita-cita mulia membangun indonesia yang unggul dalam segala aspek,
mulai dari ilmu pengetahuan yang semakin luas, kemajuan teknologi yang semakin
pesat hingga demokrasi yang telah berdiri diantara kita. Selangkah didepan
dibanding generasi yang sekarang sedang memimpin negeri ini, untuk itu kita
harus mempunyai visi dan misi yang konkrit dalam mengisi kegiatan sehari-hari.
Waktu semakin cepat berlalu, rasa malas sebisa mungkin dihilangkan agar waktu
benar digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat. Satu orang bisa menerapkan
prinsip seperti itu bukan tidak mungkin menjadi inspirasi orang disekitar kita
untuk berbuat sama tidak menyi-nyiakan waktu yang ada.
Membaca
adalah satu kegiatan yang dapat dipilih ketika kita sedang tidak ada agenda
apapun, banyak ilmu yang bisa kita gali dari aktifitas membaca mulai dari
politik, agama, teknologi bahkan sejarah, menurut Bung Karno bangsa yang besar
adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, namun jika kita tidak tahu
sejarah bangsa kita seperti apa dan siapa saja pahlawan di balik sejarah bangsa
kita, lalu bagaimana kita bisa menghargai para pahlawan kita? Hanya masing-masing
diri kita yang bisa menjawabnya, yaitu dengan membaca. Minat baca di Indonesia
menurut harian kompas berdasarkan studi Most
Littered Nation in The World 2016 berada di peringkat 60 dunia, tentunya
sangat memprihatinkan. Apalagi aktifitas di sosial media yang dengan mudah
untuk menyampaikan pendapat pribadi tanpa ada dasar keilmuan yang valid dapat
menimbulkan debat kusir yang ujungnya bisa menjadi perpecahan. Hoax adalah
salah satu produk dari kurangnya minat baca di negara kita ini, sungguh sangat
disayangkan alasan sepele ini bisa menghambat perkembangan Indonesia yang lebih
baik. Sempatkan waktu membaca 30 menit setiap hari adalah cara yang mudah untuk
diterapkan, dasar ilmu yang kuat serta pengalaman keseharian kita dalam
bersosialisasi dapat meningkatkan kualitas kita untuk bersaingan di masyarakat
yang sesungguhnya.
Lebih
menghargai waktu dengan datang tepat waktu ke tempat kerja, tepat waktu ketika
berjanji, dari kebiasaan itu semua lambat laun akan mempengaruhi diri seseorang
untuk menyelesaikan segala sesuatunya denga tepat waktu (disebut juga disiplin)
dan tidak ada waktu yang terbuang sia-sia untuk bermalas-malasan. Apalagi jika
itu menyangkut hal orang banyak seperti pembahasan UU yang akan ditetapkan, selain
dilihat menghargai hal penting tersebut juga tidak bekhianat atas apa yang
dipasrahkan kepada diri kita. Di Jepang, waktu makan siang yang diberikan
berkisar 60 menit. Tapi, mereka tidak menggunakan 60 menit itu hanya untuk
makan siang saja. Karena, mereka sangat menghargai waktu, Orang Jepang akan
menggunakan waktu makan siang yang tersisa untuk istirahat sejenak. Biasanya,
mereka mengatur jam makan siang menjadi 2 bagian, yaitu makan siang selama 30
menit dan sisanya digunakan untuk istirahat. Hal ini bertujuan agar produktivitas
Orang Jepang menjadi meningkat seiring dengan dilakukannya istirahat yang cukup.
Itulah gambaran aktifitas orang-orang Jepang yang menghargai waktu, dari modal
itu dan semua orang menerapkannya alhasil Jepang menjadi negara maju yang
sekarang duduk diperingkat 17 dunia menurut IMF dan CIA World serta menjadi
nomor 1 negara dengan industri manufaktur terbesar di dunia seperti dikutip
dari Reuters, Indeks Pembelian Manajer Manufaktur (PMI) pada Desember 2017
sebesar 54.
Punya nilai jual dan mampu bersaing memberikan potensi sumber manusia yang dapat dijadikan amunisi Indonesia dalam melanjutkan kehidupan bangsa. Generasi unggul bukanlah generasi yang sempurna pasti ada kekurangan yang mengiringinya, karna itu merupakan sebuah kodrat, lalu apa yang menjadi kekurangan di dalam generasi millennial sekarang ini? Jawabannya tidak lain adalah moral dan egosime. Kedua aspek tersebut bisa sangat menentukan untuk perkembangan Indonesia kedepan, bersatu atau terpecah belah adalah resiko yang akan terjadi. Dari membaca buku tentu bisa menggali segala aspek ilmu yang ada, peran seorang pemimpin atau guru untuk mengarahkan dan tetap berada dalam jalur yang sesuai sangat dibutuhkan. Sinergisitas antar generasi sangat dibutuhkan, mulai dari sharing pengalaman berorganisasi atau menjalankan birokrasi yang baik, petuah untuk manajemen diri. Pembangunan Indonesia tidak bisa dipasrahkan pada satu generasi, memang pada akhirnya hanya satu generasi yang akan memimpin negeri ini, akan tetapi proses untuk menuju itu dibutuhkan kerjasama yang baik antar generasi. Tugas berat yang harus dijalankan bukan tidak mungkin untuk diselesaikan, asalkan ada komitmen, ilmu yang kuat dan saling membantu antar sesama, Indonesia bisa menjadi negara maju dan adidaya pada tahun mendatang.
0 Response to " Antara Diri Sendiri dan Sinergisitas dengan Semua Stakeholder "
Posting Komentar