Ilmu lebih utama dari harta karena ilmu itu menjaga kamu, kalau harta kamulah yang menjaganya

TOLERANSI

TOLERANSI
Dalam Islam, toleransi biasa dipadankan dengan istilah “tasahul wa tasamuh”. Tasahul berarti mempermudah atau bersikap lembut dan ramah dengan yang lain. Sementara tasamuh berarti memaafkan. Sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan hadist, disuatu sisi Islam merupakan ajaran agama yang mudah diterapkan. Sedang disisi lain, Islam menghendaki keramahan dan sikap pemaaf. Dari Aisyah Radliyallahu ‘anha dia menceritakan : “Rasulullah SAW memanggilku sementara anak-anak Habasyah bermain tombak di masjid pada hari raya, beliau menawariku : ‘wahai Humairo! Apakah engkau suka melihat permainan mereka?’ jawabku : Ya! Maka beliau menyeruhku berdiri dibelakangnya, lalu beliau menunduk kedua pundaknya supaya aku dapat melihat mereka, akupun meletakkan daguku diatas pundak beliau dan menyandarkan wajahku pada pipi beliau, lalu akupun melihat dari atas pundak beliau, sementara itu beliau mengatakan : ‘bermainlah wahai bani Arfadah!’ kemudian selang setelah itu beliau bertanya : ‘wahai Aisyah! Engkau sudah puas?’ kataku : ‘belum’ supaya aku melihat kedudukanku disisi beliau, hingga akupun puas. Kata beliau : ‘cukup?’, jawabku : ‘ya’. Beliau berkata : ‘kalau begitu pergilah!’. Aisyah berkata : ‘lalu Umar muncul, maka orang-orang dan anak-anak tadi berhamburan meninggalkan mereka (Habasyah), Nabi SAW bersabda : ‘saya melihat para syaitan manusia dan jin lari dari umar’. Aisyah mengatakan : ‘Rasulullah SAW ketika itu bersabda’. Artinya : supaya orang yahudi tahu bahwa pada agama kita ada keleluasaan, aku diutus dengan Al-Hanifiyah (agama yang lurus) As-Sambah (yang mudah)”. (Muttafaq ‘Alaihi, kecuali lafadz yang dijadikan dalil yang diriwayatkan oleh Ahmad 6/116 dan 233 dan Al-Humaidi 254 dengan sanad yang sahih)
Islam sebagaimana yang dituturkan oleh Rasulullah SAW merupakan agama yang pemaaf dan mudah. Dalam syariat ini, lantaran sifatnya yang mudah itulah, maka Allah SWT tidak mengeluarkan kewajiban yang sulit. (sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an) Allah SWT tidak menetapkan hal yang menyulitkan dalam agamanya. Dan lantaran sifat Islam yang pemaaf, maka setiap kewajiban yang sulit dilakukan, akan dibebaskan. Dengan demikian menurut Islam, secara teoritis dan praktis maupun etis, toleransi merupakan hal yang dibenarkan. Tentu saja, toleransi yang diterapkan itu mesti berlandaskan pada prinsip dan nilai-nilai Islam.
Cakupan Makna Toleransi
Dalam Islam sikap toleransi tidak terbatas hanya hubungan personal maupun masyarakat antar sesame manusia tetapi sikap toleransi Islam ini lebih luas cakupannya daripada sikap kemanusiaan yang dielu-elukan oleh masyarakat umumnya di masa kini, dimana dengan ucapan-ucapan indah mereka menipu berbagai banyak orang, karena toleransi Islam memiliki makna yang luas mencakup hewan dan tetumbuhan dan mempunyai prinsip bahwa hubungan seorang muslim dengan makhluk lainnya adalah rasa kasih dan saying walaupun dalam hal membunuh dan menyembelih.
Rasulullah SAW bersabda. Artinya : “sesungguhnya Allah SWT mewajibkan berbuat baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh (dalam qishah atau perang) maka berbuat baiklah dalam cara membunuh, dan bila kalian menyembelih, maka berbuat baiklah dalam cara menyembelih, hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan parangnya dan menyenangkan sembelihannya” (Hadist Riwayat Muslim No. 1955, Ashabus Sunan dan yang lainnya)
Antara Toleransi Islam dan Toleransi Barat
Salah satu contoh dari toleransi yang diajarkan Islam adalah berlaku ramah dengan masyarakat. Sikap semacam itu tidak hanya diterapkan di kalangan masyarakat muslim semata tapi juga di kalangan non-muslim.
Menurut Islam, para ahli kitab, orang-orang musyrik dan kafir akan tetap memperoleh rahmat dan perlindungan dari masyarakat muslim jika mereka tidak memusuhi dan menentang Islam. Mereka bisa hidup damai di bawah pemerintah Islam. Ajaran Islam yang toleran inilah yang membuat hubungan antarumat beragama menjadi hangat dan harmonis. Menurut pengakuan para orientalis, umat Islam lebih maju dibanding umat lainnya dalam urusan toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Sebagaimana yang dibuktikan oleh sejarah, umat yahudi, nasrani, dan majusi selalu hidup berdampingan dengan damai di bawah pemerintahan Islam. Suatu kenyataan yang sangat kontras dengan penjajahan dan kolonialisme Barat.
Di kalangan masyarakat Barat, “tasahul dan tasamuh” diistilahkan dengan kata “toleransi”. Selain bermakna sabar dan menahan diri. Istilah itu terkadang juga berarti hidup tanpa aturan dan bebas menerima apapun. Toleransi dari prespektif Barat terkadang diartikan sibagai sikap yang tak lagi mempedulikan prinsip dan ajaran agama yang dipegang serta bisa meyakini kepercayaan ataupun ajaran agama lain. Prespektif toleransi semacam itu tentu saja tidak lagi mempedulikan tercampurnya masalah hak dan batil. Agama tidak lagi dipandang sebagai ajaran yang sakral yang memiliki otoritas di semua dimensi. Peran agama hanya berkutat pada sisi personal semata. Sehingga, sekularisme pun menjadi berkembang luas. Sejatinya, penyebaran cara pandang toleransi semacam itu bertujuan untuk melemahkan pengaruh agama dan menyebarkan kultur liberal yang tidak mengenal aturan moral.
Sayangya di dunia Islam, ada juga sebagian pihak yang menerima pemikiran toleransi ala Barat tersebut. Mereka menilai, berpegang teguh kepada prinsip-prinsip Islam sebagai aksi yang konservatif dan radikal. Tidak hanya itu saja, mereka juga menghendaki supaya menghapus ajaran yang tidak sesuai dengan gaya hidup liberalism Barat.
Mencampur Adukkan Antara Loyalitas dan Toleransi
Al-Ustadz da’I Sayyid Quthub Rahimahullah menjelaskan : “Sesungguhnya toleransi Islam bersama Ahlul Kitab merupakan satu sisi dan menjadikan mereka sebagai kekasih adalah sisi lain lagi. Namun kedua hal ini terkadang masih kabur bagi sebagian kaum muslim yang jiwanya tidak jelas melihat secara sempurna tentang hakikat agama dan tugasnya. Gambarannya sebagai pergerakan manhaj realistis mengarah kepada perkembangan yang terjadi di muka bumi ini, sejalan dengan gambaran Islam yang tabi’atnya berbeda dengan segenap gambaran yang diketahui oleh manusia. Dari sini gambaran-gambaran dan aturan-aturan yang menyelisihi sebagaimana bertolak belakang pula dengan syahwat manusia, penyimpangan dan kefasikan mereka dari manhaj Allah SWT. Dan masuklah ia ke dalam medan laga. Tiada alasanlagi, dia harus mengembangkan realita baru yang dia inginkan dan akan terjadi pergerakan positif yang berkembang.
Orang-orang yang masih kabur tentang hakekat kebenaran, nilai hakikat akidah mereka berkurang menurut perasaan yang bersih. Sebagaimana IQ yang cerdas menunjukkan berkurangnya pengetahuan mereka tentang tabi’at perlagaan ini dan tabi’at sikap ahlul kitab tentangnya.
Mereka merupakan pengarahan-pengarahan Al-Qur’an yang jelas dan gamblang tentang masalah ini, sehinggan mereka mencampuradukkan antara seruan Islam kepada sikap toleransi dalam bermuamalah dengan ahlul kitab. Berbuat baik kepada mereka dalam masyarakat muslim yang mereka tempati dan menunaikan hak-hak mereka, dengan sikap loyalitas yang tidak boleh diberikan, kecuali kepada Allah SWT, Rasul-Nya dan kaum muslimin.
Mereka melupakan apa yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an, bahwa ahlul kitab sebagiannya adalah pembela atas sebagian yang lain dalam memerangi kaum muslimin, hal ini adalah watak yang melekat pada mereka, mereka marah kepada seorang muslim karena keislamannya, mereka tidak akan ridho kepada muslimin kecuali bila dia meninggalkan agamanya dan mengikuti agama mereka, mereka senantiasa memerangi Islam dan kaum muslimin, dan mereka telah menampakkan kebenciannya lewat mulut-mulut mereka sementara apa yang mereka sembunyikan dalam hati lebih besar lagi dan seterusnya dari ketetapan-ketetapan yang tegas ini.
Sesungguhnya seorang muslim ditutut untuk bersikap toleran terhadap ahlul kitab, namun dia dilarang menunjukkan sikap loyalitas kepada mereka dalam artian saling membela dan bersahabat karib dengan mereka.
Sesungguhnya cara dia untuk memantapkan agamanya dan merealisasikan aturan-aturannya tidak mungkin sejalan dengan cara ahlul kitab, walaupun mereka menampakkan sikap toleransi dan loyalitas namun sikap ini tidak sampai pada keridhoan mereka supaya dia tetap pada agamanya dan realisasi aturannya, dan tidak akan cukup buat mereka loyalitas sebagian atas sebagian yang lain untuk memerangi dan menipunya.
Sungguh merupakan puncak kebodohan dan kelengahan bila kita mengira, bahwa kita dan mereka dapat sejalan dan bergandengan tangan untuk memantapkan agama ini dihadapan orang-orang kafir dan atheis, bila perlagaannya bersama kaum muslim”.
Batasan Toleransi Antara Muslim Dengan Non-Muslim
Sebagian orang terkadang masih kabur tentang batasan toleransi, dia mengira bahwa ada beberapa perkara yang bertolak belakang dengan makna toleransi. Padahal perkara tersebut adalah inti dan kunci pintu toleransi.
1. Tidak ikut beribadah atau meramaikan tatkala orang-orang kafir beribadah,
Allah SWT berfirman :
1. Katakanlah : “Hai orang-orang kafir.
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al kafirun : 1-6)
2. Tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai wali (penolong atau panutan),
Allah SWT berfirman : “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah SWT, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah SWT memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah SWT kembali(mu).” (QS. Ali Imron : 28)
3. Tidak bertasyabuh (menyerupai/meniru) kepada orang-orang kafir, Nabi SAW telah bersabda : “Artinya : barangsiapa yang menyerupai suatu golongan, maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat Ibnu Umar, Al Albani berkata : Hasan Shohih)

0 Response to " TOLERANSI "

Posting Komentar