Ilmu lebih utama dari harta karena ilmu itu menjaga kamu, kalau harta kamulah yang menjaganya

HARTA, ANTARA NIKMAT DAN FITNAH

HARTA, ANTARA NIKMAT DAN FITNAH
Harta, tentu banyak yang menginginkannya. Beragam cara pun dilakukan untuk memperolehnya. Halal haram, bagi sebagian orang, adalah nomor kesekian. Yang terpenting adalah kebutuhan terpenuhi dan gaya hidup terpuaskan. Jika sudah seperti ini, harta tak lagi menjadi rahmat, namun menjadi celah turunnya azab.
Harta merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang dikaruniakan kepada umat manusia. Keindahannya demikian mempesona. Pernak-perniknya pun teramat menggoda. Ini mengingatkan kita akan firman Allah SWT : “dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahwat), yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yangbanya dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah SWT-lah tempat kembali yang baik (Al-Jannah).” (Ali-IMran : 14)
Lebih dari itu, harta adalah sebuah realita yang melingkupi kehidupan umat manusia. ‘sejarah’-nya yang tua, senantiasa eksis mengawal peradaban umat manusia di setiap generasi dan masa. Jati dirinya yang berbasis fitnah, telah banyak malahirkan berbagai gonjang-ganjing kehidupan. Maha benar Allah SWT dengan segala firman-Nya, tatkala Dia mengingatkan para hamba-Nya akan realita tersebut. Sebagaimana dalam firman-Nya : “ketahuilah, sesungguhnya harta dan anak-anak kalian itu (sebagai) fitnah, dan di sisi Allah SWT-lah pahala yang besar.” (AL-Anfaal : 28)
Jauh-jauh hari, Rasulullah SAW juga telah mewanti-wanti umatnya dari gemerlapnya harta dengan segala fitnahnya yang menghempaskan. Sebagaimana sabda Beliau SAW : “bergegaslah kalian untuk baramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah ibarat potongan-potongan malam. (disebabkan fitnah tersebut) di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir, di sore dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim No. 118, dari sahabat Abu Hurairah). Demikianlah wasiat Allah SWT dan Rasul-Nya tentang harta dan segala fitnahnya.
Ketertarikan Hati Manusia Terhadap Harta
Manusia sendiri merupakan makhluk Allah SWT yang berjati diri amat dzalim (zhalum) dan amat (jahul). Demikianlah Allah SWT Rab semesta alam mensifatinya, sebagaimana dalam firman-Nya : “sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab : 72)
Sontak, tatkala harta menghampiri, ketertarikan hati pun tak bisa dipungkiri lagi. Mereka benar-benar amat mencintainya. Allah SWT berfirman : “dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (AL-Fajr : 20)
Bahkan, saking cintanya terhadap harta akhirnya ia menjadi bakhil. Allah SWT berfirman : “sesungguhnya dia (manusia) sangat bakhil dikarenakan kecintaanya yang sangat kuat kepada harta.” (Al-‘Adiyat : 8)
Jika demikian kondisinya maka tak mengherankan bila (kebanyakan) manusia teramat berambisi mengumpulkan dan menumpknya (harta). Sungguh benar apa yang disabdakan dan diperingatkan Rasul SAW : “kalaulah anak Adam (manusia) telah memiliki dua lembah dari harta, niscaya masih berambisi untuk mendapatkan yang ketiga. Padahal (ketika ia berada di liang kubur) tidak lain yang memenuhi perutnya adalah tanah, dan Allah SWT Maha Mengampuni orang-orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya No. 6436, dari sahabat Abdullah bin ‘Abbas)
Ketika hati anak manusia amat cinta kepada harta bahkan berambisi untuk mengumpulkan dan menumpuknya, maka sudah tentu harta tersebut dapat melalaikannya dari ketaatan kepada Allah SWT . Allah SWT yang Maha Mengetahui keadaan para hamba-Nya telah meberitakan hal ini, sebagaimana dalam firman-Nya : “telah melalaikan kalian perbuatan berbanyak-banyakan. Hingga kalian masuk ke liang kubur.” (At-Takatsur : 1-2)
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata : “telah melalaikan kalian (dari ketaatan) perbuatan berbanyak-banyakan dalam hal harta dan anak. (Tafsir Ibnu Katsir)
Maka dari itu, Allah SWT memperingatkan orang-orang yang beriman dengan firman-Nya : “hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian (dapat) memalingkan kalian dari dzikrulla. Barang siapa berbuat demikian maka merekalah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun : 9)
Harta Dapat Menjadikan Seseorang Sombong
Kondisi serba berkecukupan alias kaya harta tak jarang membuat seseorang lupa daratan, melampaui batas, dan sombong. Allah SWT berfirman : “ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar malampaui batas. Manakala dia melihat dirinya serba berkecukupan.” (Al-‘Alaq : 6-7)
Mungkin di antara anda ada yang bertanya : “Adakah di dalam Al-Quran kisah umat terdahulu yang lupa daratan, melampaui batas dan sombong dikarenakan harta yang dimilikinya, agar kita bisa mengambil pelajaran (ibrah) darinya?” maka jawabannya adalah : “Ada.”
Diantaranya adalah Qarun, seorang kaya raya dari Bani Israil (anak paman Nabi Musa as) yang telah melampaui batas da sombong. Allah SWT berfirman : “sesungguhnya Qarun termasuk dari kaum Nabi Musa, maka ia berlaku aniayaterhadap mereka, dan Kami telah karuniakan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya : “Janganlah engkau terlalu bangga diri (sombong), sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri(sombong) … … Qarun pun menjawab : “sesungguhnya aku dikaruniai harta tersebut dikarenakan ilmu (kepandaian)-ku”.” (Al-Qashash : 76-78)
Berikutnya adalah kisah tentang musuh-musuh para rasul secara umum yang melampaui batas lagi sombong disebabkan harta yang dimilkinya. Allah SWT berfirman : “dab Kami tidaklah mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun (rasul) melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata : ‘sesungguhnya Kami mengingkari segala apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya’. Mereka juga berkata : ‘Kami mempunyai harta dan anak yang lebih banyak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab’.” (Saba’ : 34-37)
Kisah berikutnya adalah tetang para pembesar bani Israil yang memprotes Nabi mereka atas diangkatnya Thalut sebagai raja mereka. Allah SWT berfirman : “Nabi mereka mengatakan kepada mereka : ‘sesungguhnya Allah SWT telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian’. Mereka menjawab : ‘bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia pun bukan orang yang kaya? ‘(Nabi mereka) berkata : ‘sesungguhnya Allah SWT telah memilihnya menjadi raja kalian dan menganugerahinya ilmu yang luas serta tubuh yang perkasa.’ Allah SWT memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah SWT Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah : 247)
Demikianlah beberapa fenomena mengerikan tentang harta dan perannya yang amat besar dalam mengantarkan anak manusia kepada kesombongan. Akibatnya, kebenaran dengan “enteng” ditolaknya dan orang-orang mulia pun direndahkannya. Padahal seluruh harta dan kekayaan yang dimilikinya itu tidak dapat menyelamatkannya dari azab Allah SWT.
Hal senada telah Allah SWT fimankan perihal Abu Lahab, paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kafir lagi sombong : “kemuduan kalian pasti akan ditanya pada hari itu (hari kiamat) tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan dengannya).”

0 Response to " HARTA, ANTARA NIKMAT DAN FITNAH "

Posting Komentar