Ilmu lebih utama dari harta karena ilmu itu menjaga kamu, kalau harta kamulah yang menjaganya

MENCAPAI KEKHUSYU’AN DALAM SHALAT

MENCAPAI KEKHUSYU’AN DALAM SHALAT
Sesungguhnya shalat itu merupakan pilar amaliah terbesar dalam agama ini. Ada yang mengatakan shalat adalah tiang agama. Bagaiman jadinya jika sesuatu bangunan tiangnya rapuh?
Sedang masalah khusyu’ di dalamnya merupakan tuntutan syar’i. tulisan berikut merupakan bentuk peringatan bagi diri kita juga bagi seluruh saudara-saudara kaum muslimin.
Pengertian Khusyu’
Khusyu’ adalah : ketenangan, tuma’ninah, pelan-pelan, ketetapan hati, tawadhu’ serta takut dan selalu merasa diawasi Allah SWT (Tafsir Ibnu Katsir)
Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang-orangyang khusyu’ dalam shalatnya” (Q. S. Al Mukminun : 1-2).
Diriwayatkan dari mujahid, bahwa ia mengomentari firman Allah SWT :
“… berdirilah karena Allah SWT (dalam shalatmu) dengan khusyu’”. Beliau berkata, di antara hal yang termasuk khusyu’ adalah : sikap diam, khidmat, tunduk, menundukkan pandangan serta merendahkan diri karena takut kepada Allah SWT.
Tempat khusyu’ adalah hati, sedangkan buahnya akan Nampak pada anggota badan. Anggota badan hanya mengikuti hati. Adapun sikap Nampak-nampakkan kekhusyu’an, hal itu tercela. Sebab di antara tanda-tanda keikhlasan adalah : “menyembunyikan kekhusyu’an”.
Khusyu’ merupakan parkara agung, cepat sirnanya dan jarang adanya. Nabi SAW bersabda : “sesuatu yang pertama kali diangkat dari umat ini adalah kekhusyu’an sehingga engkau tidak melihat di antara mereka orang yang khusyu’” (Hadits Hasan riwayat Imam Ath Thabrani dalam mu’jam Al Kabir).
Khusyu’ dalam shalat bias dicapai oleh siapapun yang mampu menkosongkan hatinya hanya untuk-Nya. Disibukkan hatinya dengan-Nya dan lebih mengutamakan Allah dari selainNya. Minimal di dalam shalat kita tidak memikirkan kesibukan duniawi dan kita mengerti apa yang kit abaca dalam hati.
Hukum Khusyu’
Menurut pendapat yang kuat khusyu’ dalam shalat hukumnya wajib. Allah SWT berfirman :
Artinya : “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’” (QS. Al Baqarah : 45)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Hal ini mengandung celaan atas orang-orang yang tidak khusyu’ dalam shalat sementara celaan tidk terjadi kecuali atas ditinggalkannya perkara yang wajib atau karena keharaman yang dilakukan. Jika orang-orang yang tadak khusyu’ mendapat celaan. Hal ini menunjukkan wajibnya khusyu’. Di ayat lain Allah SWT berfirman dalam surat (Al Mukminun : 1, 2, 10 dan 11), yang artinya : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi jannah firdaus, mereka kekal di dalamnya. ”
Melalui ayat-ayat yang mulia tersebut Allah SWT mengabarkan bahwa mereka adalah calon pewaris janah firdaus. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa selain mereka, tidak layak mewarisinya. Jika khusyu’ dalam shalat merupakan kewajiban, yaitu yang mencakup ketenangan dan ketundukan, maka barang siapa yang sujud sebagaimana mematuknya burung gagak, berarti ia tidak khusyu’ dalam sujudnya. Begitu pula siapa yang tidak mengangkat kepalanya di dalam ruku’ dan bersikap tenang sebelum seluruh anngota badannya tenang. Berarti ia tidak tuma’ninah, ia belum dikatakan tenang. Dan barang siapa tidak tenang ia belum dikatakan khusyu’ dalam ruku’ dan sujudnya. Dan barang siapa yang tidak khusyu’ ia berdosa dan bermaksiat.
Ironisnya ada sebagian di antara kita dalam mengajarkan shalat tarawih misalnya, mereka lebih mementingkan dengan mengajarkan yang jumlah rakaatnya banyak dengan dalih supaya pahalanya banyak. Sedangkan di satu sisi, kita bisa lihat sendiri bagaimana mereka dalam mengerjakan ruku’ dan sujudnya. Alih-alih mau dapat pahala banyak, eh…, malahan nggak dapat apa-apa. Walaupun niatnya baik, kalau caranya salah percuma. Jadi niat baik harus didukung dengan cara yang baik yaitu sesuai petunjuk Rasulullah SAW.
Sebab Yang Mendatangkan Khusyu’
Ketika kita membahas lebih lanjut tentang sebab-sebab khusyu’ dalam shalat maka hal tersebut dibagi menjadi 2 bagian :
Pertama : mendatangkan hal-hal yang menghadirkan rasa khusyu’ dan menguatkannya yaitu usaha keras hamba untuk memikirkan apa yang ia ucapkan dan lakukan, menghayati dan merenungi bacaan, dzikir dan do’anya serta menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang bermunayat di hadapan Allah SWT dan ia melihatnya. Sebab seorang yang sedang shalat dengan berdiri berarti ia sedang bermunayat kepada RabNya.
Kedua : menolak apa-apa yang menghlangkan khusyu’ dan melemahkannya, yaitu : upaya seorang hamba untuk menolak apa yang mengganggu hatinya, misalnya berfikir tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, serta upaya menghilangkan pikiran-pikiran yang menyeret hati dari tujuan utama shalatnya.
Dalam hal ini skap hamba tentu berbeda-beda kemampuannya. Banyaknya was-was dalam shalat tentu karena banyaknya syubhat dan syahwat.

0 Response to " MENCAPAI KEKHUSYU’AN DALAM SHALAT "

Posting Komentar