Ilmu lebih utama dari harta karena ilmu itu menjaga kamu, kalau harta kamulah yang menjaganya

KEHIDUPAN PALING AWAL MASYARAKAT DI KEPULAUAN INDONESIA

PROSES MUNCUL DAN BERKEMBANGNYA KEHIDUPAN AWAL MANUSIA DAN MASYARAKAT INDONESIA.

Dengan bantuan ilmu geologi (ilmu yang mempelajari kulit bumi ) perkembangan bumi dari awal terbentuknya sampai dengan sekarang, terbagi menjadi beberapa jaman yaitu :

Jaman azoikum (tidak ada kehidupan)
Jaman ini berlangsung sekitar 2500 juta tahun, keadaan bumi masih belum stabil dan masih panas karena sedang dalam proses pembentukan. Oleh karena itu pada jaman ini tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Jaman paleozoikum (kehidupan tertua)
Jaman ini berlangsung sekitar 340 juta tahun, keadaan bumi masih belum stabil dan masih terus berubah. akan tetapi menjelang akhir dari jaman ini mulai ada tanda-tanda kehidupan yaitu dari hewan bersel satu, hewan kecil yang tidak bertulang belakang, jenis ikan, amfhibi, reptil dan beberapa jenis tumbuhan ganggang .karena itulah maka jaman ini dinamakan pula dengan jaman primer (jaman kehidupan pertama).
Jaman mesozoikum (kehidupan pertengahan)
Jaman ini di perkirakan berlangsung sekitar 140 juta tahun, pada jaman ini kehidupan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, pohon-pohon besar muncul ,amfhibi mengalami perkembangan, bahkan jenis reftil mencapai bentuk yang sangat besar sekali seperti dinasaurus, tyrannosaurus, brontosaurus, atlantosaurus.
Ada pula jenis reftil yang memiliki sayap dan dapat terbang selama berjam-jam, jenis ini dinamakan dengan pteranodon. Jaman ini dinamakan jaman sekunder (kehidupan ke-2), adapula yang menyebut jaman ini dengan istilah jaman reftil , karena jenis hewan di dominasi oleh reftil , karena jenis hewan didominasi oleh reftil dengan bentuk yang sangat besar . pada akhir jaman ini mulai muncul jenis mamalia .
Jaman neozoikum (kehidupan muda)
Jaman ini di perkirakan berlangsung sekitar 60 juta tahun , jaman ini terbagi lagi menjadi jaman tersier (kehidupan ke-3) dan quarter (kehidupan ke-4). pada jaman ini keadaan bumi telah membaik, perubahan cuaca tidak begitu besar dan kehidupan berkembang dengan pesat .
Jaman tersier
Pada jaman tersier , reftil raksasa mulai lenyap , mamalia berkembang pesat , mahluk primate sejenis kera mulai ada kemudian muncul jenis orang utan sekitar 10 juta tahun yang lalu muncul jenis hewan primate yang lebih besar dari pada golira sehingga disebut giganthropus . hewan ini menyebar dari afrika ke asia selatan , tetapi kemudian punah . pada masa itu pulau Kalimantan masih bersatu dengan benua asia, sebagai buktinya jenis babi purba (choeromous) dari jaman ini ditemukan pula di asia daratan.
Jaman quarter
Berlangsung sekitar 600 ribu tahun , di tandai dengan adanya tanda-tanda kehidupan manusia . jamna ini terbagi atas jaman diluvium (pleistocen) dan jaman alluvium (holocen).
Jaman diluvium berlangsung sekitar 600 ribu tahun yang lalu , mulai muncul kehidupan manusia purba . jaman ini dinamakan pula jaman glacial (jaman es) karena es di kutub utara mencair sehingga menutupi sebagian wilayah eropa utara asia utara dan amerika utara .
Pada masa ini sumatera , jawa, Kalimantan masih menyatu dengan daratan asia , sedangkan Indonesia timur dengan Australia . mencairnya es dikutub telah mengakibatkan pulau-pulau di Indonesia di pisahkan oleh lautan baik denga asia maupun Australia .bekas daratan asia yang sekarang menjadi dasar laut di sebut paparan sunda , sedangkan bekas daratan Australia yang terendam air laut di sebut paparan sahul , kedua paparan tersebut di pisahkan oleh zone Wallace.
Pada masa ini hewan-hewan yang berbulu tebal seperti mamouth (gajah besar berbulu tebal ) mampu bertahan hidup. Sedangkan yang berbulu tipis migrasi ke wilayah tropis . perpindahan hewan dari daratan asia ke Indonesia terbagi atas dua jalur . pertama melalui Malaysia ke Sumatra dan jawa , kedua melalui Taiwan , philipina ke Kalimantan dan jawa .
Pada jaman ini terjadi pula perpindahan manusia dari daratan asia keindonesia , yaitu pitechanthropus erectus (ditemukan di trinil) yang sama dengan sinanthropus pekinensis. Demikian juga dengan hasil kebudayaan pacitan yang banyak di temukan di cina , Malaysia , birma . homo wajakensis yang menjadi nenek moyang bangsa austroloid ikut pula menyebar dari asia ke selatan sampai ke Australia dan menurunkan penduduk asli Australia yaitu bangsa aborigin
Jaman alluvium , pada masa ini kepulauan Indonesia telah terbentuk dan tidak lagi menyatu dengan asia maupun Australia . jenis manusia pertama yang migrasi dari asia ke Indonesia telah tidak ada dan digantikan oleh jenis manusia cerdas (homo sapiens).

KRONOLOGIS PERKEMBANGAN BIOLOGIS MANUSIA PURBA INDONESIA

Kehidupan manusia pra sejarah dapat di ketahui melalui berbagai fosil . berdasarkan penelitian manusia tersebut telah memiliki kemampuan untuk mengembangkan kehidupan walaupun masih sangat sederhana dan kemampuan berfikir terbatas . berikut ini beberapa penemuan fosil manusia purba di Indonesia

MEGANTHROPUS PALEO JAVANICUS

Artinya manusia jawa tertua yang berbadan besar , yang hidup di jawa sekitar 2-1 juta tahun silam . manusia ini mempunyai cirri biologis berbadan besar , kening menonjol , tulang pipi tebal, rahang besar dan kuat , makanan utamanya adalah tumbuhan dan buah-buahan , hidup dengan cara food gathering (mengumpulkan makanan). Ralph von koenigswald menemukan fosil dari rahang bawah manusia jenis ini di sangiran (lembah bengawan solo) pada 1941.

PITECHANTHROPUS

Diartikan dengan manusia kera , fosilnya paling banyak di temukan di Indonesia . mereka hidup dengan cara food gathering dan berburu . pitechanthropus terbagi kedalam beberapa jenis yaitu : pitechanthropus mojokertensis, robustus, dan erectus.
Pitechanthropus mojokertensis fosilnya ditemukan oleh von koenigswald pada tahun 1936, dalam bentuk tengkorak anak-anak berusia 5 tahunan . di mojokerto (lembah bengawan solo ) .hidup sekitar 2,5-2,25 juta tahun lalu .ciri – cirri biologisnya antara lain : muka menonjol kedepan , kening tebal dan tulang pipi yang kuat
Pitechanthropus robustus , fosilnya di temukan oleh wiedenreich dan koenigswald di trinil (ngawi jatim) 1939. cirri biologisnya hamper sama dengan pitechathropus mojokertensis , bahkan koenigswald menganggapnya masih dari jenis yang sama .
Pitechanthropus erectus, (manusia kera berjalan tegak ) , fosilnya ditemukan oleh Eugene dubois di trinil (ngawi jatim) pada 1890 . mereka hidup sekitar 1 juta sampai 600 ribu tahun yang lalu . cirri biologisnya bertubuh agak kecil , badan tegap , pengunyah yang kuat , volume otak 900 cc, kemampuan berfikir masih rendah, menurut pendapat teuku jakob , manusia ini telah bisa bertutur.

HOMO

Jenis homo soloensis , fosilnya ditemukan antara 1931 -1934 oleh von koenigswald , ter haar dan oppemoorth di sepanjang lembah bengawan solo . homo soloensis diperkirakan hidup antara 900-200 ribu tahun lalu. Cirri biologis diantaranya bentuk tubuh tegak , kening tidak menonjol . menurut koenigswald, jenis ini lebih tinggi tingkatannya dari pitechanthropus erectus
Homo wajakensis, fosilnya ditemukan oleh rietschoten dan dubois antara tahun 1888-1889 di desa wajak (tulung agung ) . cirri biologisnya : tinggi mencapai 130-210 cm , berat badan sekitar 30 – 150 kg , volume otak sampai dengan 1300cc . mereka hidup dengan makanan yang telah di masak walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana .

PERIODISASI PERKEMBANGAN BUDAYA PADA MASYARAKAT AWAL INDONESIA BERDASARKAN BUKTI ARKEOLOGI

Berdasarkan arkeologi (ilmu yang mempelejari peninggalan purbakala dari manusia pra sejarah). perkembangan budaya manusia Indonesia dapat di golongkan menjadi beberapa periode yaitu periode jaman batu (batu tua, batu tengah, batu muda, dan jaman logam (perunggu).

JAMAN BATU

Paleolithikum (batu tua).
Ciri dari jaman ini adalah peralatan buat dari batu masih kasar dan belum di asah . alat dari batu ini di buat dengan cara membenturkan batu yang satu dengan yang lainnya , pecahan batu yang menyerupai kapak kemudian mereka gunakan sebagai alat.
Cara hidup manusia pada jaman plleolithikum adalah: nomad dalam kelompok kecil , tinggal dalam gua atau ceruk karang , berburu . mengumpulkan makanan (food gathering) . menurut teuku Jacob , bahasa sebagai alat komunikasi telah ada dalam tingkat sederhana . berdasarkan tempat penemuannya , jaman palleolithikum terbagi atas kebudayaan pacitan dan ngandong.
Kebudayaan pacitan, peralatan yang di hasilkan adalah kapak genggam , alat penetak (chopper) , ditemukan oleh Koenigswald 1935 . selain di pacitan , alat – alat tersebut di temukan pula di beberapa daerah seperti : sukabumi (jabar) , parigi, gombong, (jateng) , lahat (sumsel),lampung , bali, sumbawa, flores, sulsel, kalsedan timor. Alat-alat tersebut di temukan pada lapisan yang sama dengan di temukannya fosil pitechanthropus erectus.
Kebudayaan ngandong , peralatan yang ditemukan adalah flakes (alat serpih) berupa pisau atau alat penusuk. disamping itu ditemukan pula peralatan dari tuilang dan tanduk . berupa belati , mata tombak yang bergerigi, alat pengorek ubi , tanduk menjangan yang diruncingkan dan duri ikan pari yang diruncingkan . alat-alat tersebut ditemukan pual di daerah lain seperti di sangiran dan sargen (jateng) . manusia pendukung kebudayaan ngandong adalah homo soloensis dan homo wajakensis , Karena di temukan pada lapisan tanah yang sama dengan peralatan kebudayaan ngandong.
Mesolitihkum (batu tengah)
Cirri dari jaman ini adalah peralatan dari batu yang telah di asah bagian yang tajam nya . jaman ini merupakan peralihan dari palleolithikum ke neolithikum . yang menarik dari jaman messolithikum adalah di temukannya tumpukan sampah dapur yang kemudian di beri istilah kjokkenmoddinger dan abris sous roche oleh penelitinya yaitu callenfels (dijuluki bapak pra sejarah ).
Kjokkenmoddinger adalah tumpukan kulit kerang dan siput yang telah membatu , banyak di jumpai di pinggir pantai . sedangkan abris sous roche adalah tumpukan dari sisa makanan yang telah membatu di dalam gua .
Cara hidup messolhitikum adalah sebagian masih food gathering dan berburu tetapi sebagian telah menetap dalam gua dan bercocok tanam sederhana (berladang ) menanam umbi-umbian . telah pula menjinakan hewan dan menyimpan hewan buruan sebagai langkah awal untuk berternak .
Mereka telah membuat gerabah , mengenal kesenian dalam bentuk lukisan di dinding gua (lukisan gua) ketika mereka telah menetap . lukisan tersebut berupa gambar telapak tangan berlatar belakang warna merah , gambar babi rusa yang tertancap Panah (di gua leang-leang – sulsel) , penelitinya dilakukan oleh heekren palm , 1950 di gua pulau muna , di temukan berbagai lukisan manusia , kuda, rusa, buaya, anjing, . dimaluku dan papua , lukisan gua dalam bentuk gambar cap tangan , kadal , manusia , burung , perahu, mata, matahari.
Jaman messolhituikum terbagi atas 3 kelompok budaya : kebudayaan fleks, (fleks culture) , kebudayaan pebble (pebble culture) , kebudayaan tulang (bone culture) . kebudayaan ini di dukung oleh manusia dari jenis papua melanesoid yang berasal dari indo cina .
Fleks culture , peralatan berupa alat serpih yang telah ada jamna palleolithikum , menjadi sangat penting pada jaman messolithikum , sehingga memunculkan corak tersendiri . terutama setelah mendapatkan pengaruh dari budya daratan . dua orang peneliti berkebangsaan swiss (fritz sarasin dan paul sarasin ) antara 1893-1896, melakukan penelitian di sulsel , dan berhasil menemukan fleks . peralatan sejenis juga di temukan di daerah lain yaitu bandung (fleks dari obsidian yaitu batu hitam yang indah) , flores, NTT dan timor. Flakes culture merupakan pengaruh dari asia daratan yang masuk ke Indonesia melalui jalur timur yaitu jepang, Taiwan, Philipina, sulawesi.
Pebble culture, peralatan berupa kapak genggam sumatera (pebble), kapak pendek (hacte curte) , batu penggiling , pisau , callenfels pada 1925, melakukan penelitian di pesisir sumatera dan menemukan peralatan di atas bersama kjokkenmoddinger . pebble culture merupakan pengaruh dari kebudayaan bacson hoabinh (indo china) yang masuk ke Indonesia melalui jalur barat yaitu malaka dan sumatera
Bone culture , penelitian di lakukan oleh callenfels 1928-1931 di sampung ponorogo . peralatan tersebut ditemukan bersama dengan abris sous roche dalam gua di gua-gua . ditemukan pula fosil dari jenis manusia papua melanesoide , yang merupakan nenek moyang orang papua (irian ) . peralatan dan fosil sejenis di temukan pula di besuki dan bojonegoro .
Neolhitikum (batu muda )
Cirri jaman batu muda adalah pemakaian peralatan dari batu yang telah diasah halus karena telah mengenal tehnik mengasah . pada jaman ini terjadi revolusi kehidupan (perubahan dari kehidupan nomad dengan food gathering menjadi menetap dengan food producing) .
Cara hidup pada jaman neolithikum adalah hidup menetap , bertempat tinggal dekat sumber air , food producing (menghasilkjan makanan dari bercocok tanam dan berternak walaupun berburu masih dilakukan terutama pada waktu senggang), membuat rumah bertonggak dengan atap dari daun-daunan membuat kain dari kulit kayu (ditemukan pemukul kulit kayu ), membuat perahu atau rakit , membuat perhiasan dari batu-batu kecil indah . menurut penelitian kem mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa melayu polinesia .
Pada akhir jaman ini telah dikenal kepercayaan dalam bentuk animisme (kepercayaan tentang adanya arwah nenek moyang yang memiliki kekuatan gaib ) dan dinamisme (kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap memilki kekuatan gaib ) . mereka percaya bahwa setelah mati ada kehidupan lain sehingga di adakanlah berbagai upacara terutama bagi kepala sukunya . mayat yang dikubur disertai dengan berbagai macam benda sebagai bekal di alam lain . dan sebagai peringatan maka di bangunlah berbagai monument (bangunan) yang rutin diberi sajian agar arwah yang meninggal (leluhur) melindungi dan memberikan kesejahteraan bagi sukunya .
Pada jaman ini pembuatan gerabah memegang peranan penting sebagai wadah atau tempat dalam kehidupan sehari-hari . adapula gerabah yang digunakan untuk keperluan upacara dan gerabah yang dibuat dengan indah baik bentuk maupun hiasannya.
Berdasarkan peralatannya kebudayaan jaman neolitihkum di bedakan menjadi kebudayaan kapak persegi dan kapak lonjong berasal dari heine geldern berdasarkan kepada penampang yang berbentuk persegi panjang dan lonjong.
Kebudayaan kapak persegi , kebudayaan kapak persegi berasal dari asia daratan yang menyebar ke Indonesia melalui jalur barat melalui malaka , sumatera, jawa, klimantan, sulawesi, dan nusatenggara. Terdapat kapak persegi ukuran kecil (di gunakan sebagai fungsi kapak ) dan yang ukuran besar (digunakan sebagai fungsi beliung atau cangkul ) . dibeberapa daerah ditemukan bekas-bekas pusat kerajinan kapak persegi seperti di lahat (palembang), bogor, sukabumi, purwakarta, tasik (jabar) , pacitan (jatim). Kebudayaan kapak persegi di dukung oleh manusia proto melayu (melayu tua ) yang migrasi ke Indonesia menggunakan perahu bercadik sekitar 2000 sm . yang merupakan keturunan ras melayu tua adalah susku sasak , toraja, batak dan dayak . di minahasa (sulut ) di temukan kapak bahu, sejenis kapak persegi di beri leher untuk pegangannya .
Kebudayaan kapak lonjong , ukuran kapak lonjong ada yang besar (walzenbeli) dan kecil (kinbeli) , sering di sebut dengan istilah neolith papua karena penyebarannya terbatas di irian saja oleh bangsa papua melaneside.
Dari peralatan yang ditemukan, baik kapak persegi maupun kapak lonjong di buat dari batu api (chalcedon) , terdapat pula kapak yang tidak terdapat tanda-tanda bekas dipakai dalam bentuk yang indah (sebagai alat berharga , lambing kebesaran atau jimat).

JAMAN LOGAM

1. Jaman perunggu
Kebudayaan perunggu di asia tenggara merupakan pengaruh dari kebudayaan dongson , yang berkembang di Vietnam , geldern berpendapat bahwa kbudayaan dongson berkembang paling muda sekitar 300 sm pendukung kebudayaan perunggu adalah bangsa deuteuro melayu (melayu muda) yang migrasi ke Indonesia sambil membawa kebudayaan dongson. Keturunannya adalah jawa, bali, bugis, madur, dll. Bahkan ditemukan beberapa bukti bahwa telah terjadi pembaruan antara melayu monggoloide (proto melayu dengan deuteuro melayu) dan papua melaneside
Cirri jaman perunggu adalah pemakian peralatan dari logam yang dikembangkan melalui tehnik bivalve (rangkap) dan a cire perdue (cetak lilin) . namun bukanlah berarti setelah itu peralatan dari batu dan gerabah di tinggalkan karena masih terus dipergunakan bahkan sampai sekarang .
Cirri kehidupan pada jaman perunggu adalah telah terbentuk perkampungan yang teratur dipimpin oleh kepala suku atau ketua adapt , tinggal dalm rumah bertiang yang besar yang bagian bawah nya dijadikan tempat ternak , bertani (berladang dan bersawah) dengan system irigasi sehingga pengairan tidak selalu bergantung kepada hujan .
Telah terdapat pembagian kerja berdasarkan keahlian sehingga munculah kelompok undagi (tukang yang ahli membuat peralatan logam ) . mereka telah menguasai ilmu astronomi (untuk kepentingan pelayaran dan pertanian ) dan membuat perahu bercadik.
Beberapa hasil budaya pada jaman perunggu adalah kapak corong (kapak sepatu ) , candrasa (kapak corong yang salah satu sisinya memanjang) , terdapat candrasa dan kapak corong yang indah dan tidak ada tanda-tanda bekas di gunakan . nekara (seperti dandang tertulungkup) , moko (nekara yang lebih kecil) , terdapat berbagai perhiasan seperti garis lurus , piln-pilin , binatang, rumah, perahu, lukisan orang berburu , tari dan lukisan orang cina (monggol).
Selain itu mereka membuat bejana perunggu (berbentuk seperti periuk yang gepeng) dengan hiasan indah (dalam bentuk garis dan burung merak). Arca perunggu berupa arca (ditemukan di bangkinag – sulsel , bogor-jabar, dan riau ) perhiasan perunggu seperti gelang , kalung , anting, dan cincin.
Kebudayaan megalithikum (batu besar )
Di sebut kebudayaan batu besar karena pada umumnya menghasilkan kebudayaan dalam bentuk monument yang terbuat dari batu berukuran besar. Kebudayaan ini muncul pada akhir jaman neolhitikum , tetapi perkembangannya justru terjadi pada jaman perunggu (kebudayaan dongson ).
Hasil-hasil dari kebudayaan megalithikum memberikan petunjuk kepada kita mengenal perkembangan kepercayaan , terutama pemujaan terhadap arwah nenek moyang ,yang memang telah muali nampak pada akhir jaman nelithikum berikut ini adalah hasil-hasil budaya megalhitikum :
Menhir, tugu batu yang terbuat dari batu tunggal , yang berfungsi sebagai tanda peringatan dan melambangkan arwah nenek moyang sehingga menjadi benda pemujaan , menhir banyak di temukan di pasemah , lahat , sungai talang koto (sumatera) , nagada (flores)
Dolmen , meja batu tempat sesaji, ada dolmen yang di sngga oleh menhir dan ada pula yang digunakan sebagai penutup keranda atau sarchopagus, yang demikian dinamakan dengan pandhusa . sarcophagus (keranda) , peti mati tempat penyimpanan mayat yang berbentuk lesung terbuat dari batu utuh yang diberi tutp . di bali di temukannya keranda yang berisi tulang belulang manusia, barang perunggu serta manik-manik.
Kubur batu , peti mayat yang di pendam di dalam tanah berbentuk persegi panjang dengan ke empat sisinya di buat dari lempengan – lempengan batu. Ada pula yang di sebut waruga , yaitu kubur batu yang berbentuk bulat . kubur batu banyak di temukan di kuningan (jabar) , pasemah(sumatera), wonosari (yogja) dan cepu (jateng).
Punden berundak, bangunan pemujaan terhadap roh nenek moyang yang berupa susunan batu bertingkat . banyak ditemukan di banten , garut, kuningan, sukabumi (jabar). Dalam perkembangan selanjutnya , punden berundak merupakan dasar dalam pembuatan candi , bangunan keagamaan maupun istana .
selain itu di temukan pula hasil budaya megalithikum dalam bentuk patung atau arca manusia yang menggambarkan wujud nenek moyang atau arca binatang . banyak di temukan di daerah pasemah (sumatera), sementara di di lembah bada (sulteng ) ditemukan patung manusia (laki-laki dan perempuan).

PERADABAN AWAL MASYARAKAT DI DUNIA YANG BERPENGARUH TERHADAP PERADABAN INDONESIA

A. Proses migrasi ras proto melayu dan deutero melayu di kawasan Asia Tenggara

Menurut Kern dan Von Geldern bahwa asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa Austronesia. Bangsa Austronesia masuk kepulauan Indonesia sekitar abad 2000 SM atau yang sering disebut zaman Neoliticum. Mereka masuk Indonesia melalui dua jalur atau jalan yaitu jalan barat dan jalan timur.
1. Jalan barat menempuh rute daratan Asia lalu Semenanjung Melayu dan Sumatera.
2. Jalan timur menempuh rute daratan Asia lalu Philipina dan Sulawesi.
Zaman Neolithikum hasli budayanya dibedakan menjadi dua yaitu kapak lonjong dan kapak persegi. Persebaran kapak persegi dari daratan Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama di Indonesia bagian barat. Sementara kapak lonjong perseberannnya melalui jalan timur dan peninggalannya banyak tersebar di Indonesia bagian timur. Pendukung budaya kapak persegi adalah bangsa Austronesia dan pendukung kapak lonjong adalah bangsa Papua-Melanesoide (sama-sama disebut bangsa Austronesia).
Proses migrasi berlangsung mulai tahun 2000 SM berjalan terus hingga tahun 500 SM. Sehingga hubungan dengan Asia terjalin dalam waktu yang cukup lama pada tahun 500 SM, masuk gelombang kedua yang memiliki kebudayaan lain dari pada yang lain. Mereka telah mampu mengolah logam dan membuat alat-alat dari logam. Kebudayaan logam semula adalah kebudayaan Dongsong yang masuk Indoenesia melalui jalan darat.
Hasil budayanya seperti nekara, kapak corong, kapak lonjong. Mereka masuk ke Indonesia melalui jalan barat yaitu Asia melalui Thailand dan Malaysia Barat dan terus ke seluruh nusantara. Pendukung kebudayaan perunggu adalah bangsa Deutero Melayu atau Melayu Muda. Keturunan bangsa Proto Melayu atau Melayu Muda atau bangsa Austronesia adalah suku Batak, Toraja dan Papua. Adapun keturunan bangsa Deutero Melayu antara lain suku Jawa, Sumatera, Bugis.
B. Kembalinya Masa Kejayaan Zaman Batu
Zaman Paleolitikum, Mesolitikum atau Megalitikum suatu masa kejayaan peradaban di jaman batu mungkin sudah lama ditinggalkan manusia. Pada zaman ini, batu adalah merupakan suatu yang sangat istimewa, karena segala sesuatu peralatan yang digunakan oleh manusia adalah dari batu. Dari mulai kampak untuk menebang pohon, peralatan makan, bahkan sampai pada tempat-tempat untuk memuja roh-roh nenek moyang, semua dari batu. Batu juga dianggap sesuatu yang mempunyai kekuatan yang dapat mengabulkan beberapa permintaan manusia.
Di zaman modern saat ini, peradaban itu sudah ditinggalkan. Semua peralatan yang digunakan oleh manusia, lebih bersifat praktis dan fungsional. Semua terbuat dari bahan-bahan yang lebih ringan, mudah dibawa kemana-mana dan canggih. Manusia sudah tidak lagi menyembah batu-batuan, tetapi lebih menggunakan akal pikiran rasionalnya untuk mencari kebenaran, dan meyakini yang namanya “Tuhan” sebagai penciptanya. “Batu” hanya sebagai sebuah matrial untuk membangun infrastruktur bangunan, juga sebagai cobek penghalus sambal terasi di dapur.

PENDUDUK INDONESIA TERTUA DAN PERSEBARAN BANGSA-BANGSA DALAM ZAMAN PREHISTORI

Manusia di Indonesia yang tertua sudah ada kira-kira satu juta tahun yang lalu, waktu Dataran Sunda masih merupakan daratan, waktu Asia Tanggara bagian benua dan bagian kepulauan masih tersambung menjadi satu. Penduduk Dataran Sunda itu memiliki ciri fisik yang berbeda dari manusi sekarang ini, sisa-sisanya adalah beberapa fosil yang ditemukan di lembah Bengawan Solo. Fosil-fosil itu oleh para ahli disebut Pithecanthropus Erectus, fosil ini juga ditemukan di sebuah gua dekat Peking, dan beberapa Asia Timur.
Karena waktu bentuk fisiknya sudah berevolusi, sehingga menampakkan cirri-ciri yang berbeda. Sejumlah fosil yang telah mengalami evolusi ditemukan di desa Ngandong dan para ahli menyebutnya sebagai Homo Soloensis. Homo Soloensis itu dalam beberapa tahun kemudian mereka berevolusi menjadi manusi asekarang, tetapi dengan ciri-ciri ras yang menyerupai penduduk asli Australia. Sisa-sisa fosil dari perubahan Homo Soloensis di temukan dis uatu tempat bernama Wajak, para ahli menyebutnya Homo Wajakensis. Fosil itu juga banyak ditemukan di daerah Talgai, Darling Downs, Queensland,yang dipercaya sebagai nenek monyang penduduk asli Australia.
Persebaran manusia dengan ciri-ciri Austro-Melanesoid.
Nenek moyang dari manusia Wajak tersebut diatas, sebelumnya sudah ada yang menyebar ke arah barat dan ke arah timur Nusantara. Mereka yang menyebar ke arah timur menduduki Irian. Meraka hidup dalam kelompok-kelompok kecil di daerah muara-muara sungai di mana mereka hidup dengan menangkap ikan di sungai, dan meramu tumbuh-tumbuhan. Pada masa sekarang bekas-bekas itu dapat ditemukan di daerah Teluk McCluer dan Teluk Triton di kepala Cendrawasih. Bekas-bekas itu berupa tempat-tempat perlindungan di bawah karang atau yang disebut abris sous roches.
Di bagian barat dari Nusantara orang Austro-Melanesoid, mengembangkan suatu kebudayaan yang pada dasarnya sama dengan kelompok yang dihidup di Irian. Mereka juga mengembangkan perkampungan abris sous roches. Adapun perbedaan dengan kelompok di Irian adalah mereka menggunakan kapak genggam yang mempunyai suatu sisi bekas pecahan yang kasar dan suatu sisi luar yang lebih halus. Kapak itu sering diasah pada bagian tajamnya.
Persebaran dari manusia Austro-Melanesoid yang makan kerang, dapat direkontruksi dari adanya timbunan sisa-sisa kulit kerang yang di sebut kjokkenmoddinger atau sampah dapur. Sekarang tempat-tempat yang berupa bukit-bukit kerang dan ditandai dengan adanya kapak genggam yang bagian tertentunya tajam. Banya dijumpai di Aceh, Kedah dan Pahang di Malaysia. Kecuali itu k[ak-kapak itu juga ditemukan di Jawa Timur, tetapi juga di Vietnam Utara, ialah di Pengunungan Bacson, dan di gua-gua dari Propinsi Hoa-binh, Hoa-nam, dan Tan-Hoa. Justru penemuan-penemuan alat-alat prehistoris yang berpusat kepada alat genggam itu tadi disebut alat-alat Bacson-Hoabinh.
Fosil-fosil manusia yang sering ditemukan bersamaan dengan alat-alat Bacson-Hoabinh tadi, seperti misalnya di gua Sodong dan Samoung di Jawa Timur, di bukit kerang di Aceh, dan Di gua Kepah di Malaysia Barat, menunjukkan secara dominan ciri-ciri Austro-Melanesoid, sungguh pun bercampur ciri-ciri ras Mongoloid. Justru karena itulah Koentjaraningrat condong untuk menyimpulkan bahwa adanya persebaran dari timur ke barat dari manusia Austro-Melanesoid berasal dari Jawa, melalui Sumatera, Semenanjung Malayu dan Muang Thai sampai Vietnam Utara.
Pengaruh ciri-ciri Mongoloid. Dari manakah kiranya asalnya ciri-ciri Paleo-Mongoloid yang tampak pada penduduk kuno di Indonesia tersebut. Ciri-ciri itu mungkin bersal dari Asia. Satu kemungkinan adalah melalui jalan yang dilalui oleh orang Austro–Melanesoid yang ke arah barat dan utara, di mana orang-orang dengan cirri-ciri Mongoloid bercampur dengan orang-orang Austro-Melanesoid. Dengan demikian
Perpindahan/Migrasi Bangsa-bangsa ke Indonesia
Sebelum Anda membahas lebih jauh uraian materi migrasi bangsa-bangsa ke Indonesia, alangkah baiknya Anda perhatikan terlebih dahulu gambar 1 yang merupakan peta rute atau arah penyebaran kapak persegi dan kapak lonjong (kebudayaan Neolithikum) ke Indonesia.
Alur Penyebaran Kebudayaan Neolithikum di Indonesia.
Tentu Anda mempunyai suatu gambaran bahwa kebudayaan Neolithikum yang berupa kapak persegi dan kapak lonjong yang tersebar ke Indonesia tidak datang/menyebar dengan sendirinya, tetapi terdapat manusia pendukungnya yangberperan aktif dalam rangka penyebaran kebudayaan tersebut.
Manusia pendukung yang berperan aktif dalam rangka penyebaran kebudayaan itulah merupakan suatu bangsa yang melakukan perpindahan/imigrasi dari daratan Asia ke Kepulauan Indonesia bahkan masuk ke pulau-pulau yang tersebar di Lautan Pasifik.
Dari penjelasan di atas tentu Anda ingin mengetahui dari mana, asal bangsa-bangsa yang berimigrasi ke Indonesia?
Bangsa yang berimigrasi ke Indonesia berasal dari daratan Asia tepatnya Yunan Utara bergerak menuju ke Selatan memasuki daerah Hindia Belakang (Vietnam)/Indochina dan terus ke Kepulauan Indonesia, dan bangsa tersebut adalah:
1. Bangsa Melanesia atau disebut juga dengan Papua Melanosoide yang merupakan rumpun bangsa Melanosoide/Ras Negroid. Bangsa ini merupakan gelombang pertama yang berimigrasi ke Indonesia.
2. Bangsa Melayu yang merupakan rumpun bangsa Austronesia yang termasuk golongan Ras Malayan Mongoloid. Bangsa ini melakukan perpindahan ke Indonesia melalui dua gelombang yaitu:
1. Gelombang pertama tahun 2000 SM, menyebar dari daratan Asia ke Semenanjung Melayu, Indonesia, Philipina dan Formosa serta Kepulauan Pasifik sampai Madagaskar yang disebut dengan Proto Melayu. Bangsa ini masuk ke Indonesia melalui dua jalur yaitu Barat dan Timur, dan membawa kebudayaan Neolithikum (Batu Muda)
2. Gelombang kedua tahun 500 SM, disebut dengan bangsa Deutro Melayu. Bangsa ini masuk ke Indonesia membawa kebudayaan logam (perunggu).
Tabel Migrasi Bangsa-Bangsa ke Indonesia
Gelombang Migrasi Jenis Bangsa Rumpun Bangsa Jenis Ras
Jenis Bangsa Prasejarah Indonesia
Dengan adanya migrasi/perpindahan bangsa dari daratan Asia ke Indonesia, maka pada zaman prasejarah di Kepulauan Indonesia ternyata sudah dihuni oleh berbagai bangsa yang terdiri dari:
1. Bangsa Melanisia/Papua Melanosoide yang merupakan Ras Negroid memiliki ciri-ciri antara lain: kulit kehitam-hitaman, badan kekar, rambut keriting, mulut lebar dan hidung mancung. Bangsa ini sampai sekarang masih terdapat sisa-sisa keturunannya seperti Suku Sakai/Siak di Riau, dan suku-suku bangsa Papua Melanosoide yang mendiami Pulau Irian dan pulau-pulau Melanesia.
1. Bangsa Melayu Tua/Proto Melayu yang merupakan ras Malayan Mongoloid memiliki ciri-ciri antara lain: Kulit sawo matang, rambut lurus, badan tinggi ramping, bentuk mulut dan hidung sedang. Yang termasuk keturunan bangsa ini adalah Suku Toraja (Sulawesi Selatan), Suku Sasak (Pulau Lombok), Suku Dayak (Kalimantan Tengah), Suku Nias (Pantai Barat Sumatera) dan Suku Batak (Sumatera Utara) serta Suku Kubu (Sumatera Selatan).
2. Bangsa Melayu Muda/Deutro Melayu yang merupakan rasa Malayan Mongoloid sama dengan bangsa Melayu Tua, sehingga memiliki ciri-ciri yang sama. Bangsa ini berkembang menjadi Suku Aceh, Minangkabau (Sumatera Barat), Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis dan Makasar di Sulawesi dan sebagainya.

2 Responses to " KEHIDUPAN PALING AWAL MASYARAKAT DI KEPULAUAN INDONESIA "